Jumat, 18 Agustus 2017

perbedaan biji , bibit , dan benih

I. Konsep Biji

Biji merupakan suatu bentuk inti hasil dari persarian dan bakal tanaman mini (embrio) yang masih dalam keadaan perkembangan yang terkekang (dorman). Biji tersebut dapat tumbuh menjadi tanaman tanpa campur tangan manusia misalnya terbawa angin, air, atau melalui perantaraan binatang.

Biji
Bagian-bagian Biji

Embrio yang perkembangannya sempurna terdiri komponen sebagai berikut :
  • epikotil (calon pucuk)
  • hipokotil (calon batang)
  • radikel (calon akar)
  • kotiledon (daun lembaga) 
Biji terdiri dari 3 bagian dasar yaitu embrio, jaringan penyimpan makanan, dan pelindung biji. Embrio adalah suatu tanaman baru yang berasal dari bersatunya gamet-gamet jantan dan betina pada suatu  proses pembuahan. Embrio yang perkembangannya sempurna akan terdiri dari komponen yaitu epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon batang), dan radikel (calon akar) dan kotiledon (keping biji). Tanaman di dalam kelas Angiospermae diklasifikasikan oleh banyaknya kotiledon. Pada tanaman monokotil mempunyai satu kotiledon atau dikenal pula sebagai endosperm misalnya rerumputan (grasses) dan bawang (Allium sp), sedangkan tanaman dikotiledon mempunyai dua kotiledon misalnya  kacang-kacangan (Leguminosa).
Jaringan Penyimpanan Cadangan Makanan
 
Ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpanan cadangan makanan. Struktur tersebut antara lain yaitu jaringan penyimpan cadangan makanan pada tanaman dikotil terletak pada kotiledon, sedangkan pada monokotil terletak pada endosperm. Kotiledon, misalnya pada kacang-kacangan (Leguminosa), semangka (Citrullus vulgaris Schrad), labu ( Cucurbita pepo L). Endosperm, misalnya pada jagung (Zea mays L), gandum (Triticum nucifera L), dan pada kelapa (Cocus nuicifera L), bagian dalamnya yang berwarna putih dan dapat dimakan itu adalah endospermnya. Perisperm, misalnya pada family Chenopodiaceae (Beta vulgaris L dan Spinacia oleraceae L)  dan Caryophyllaceae (Dianthus sp dan Agros temaa sp). Gametophyte betina yang haploid, misalnya pada kelas Gimnospermae yaitu pinus.

Cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan persentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji. Biji bunga matahari kaya akan fat/lemak, biji kacang-kacangan kaya akan protein, biji padi mengandung banyak karbohidrat.Terdapat perbedaan di antara sub kelas monokotil dan dikotil. Sub kelas monokotil, cadangan makanan dalam endosperm baru akan diserap setelah biji masak dan dikecambahkan serta telah menyerap air. Benih sorgum menyimpan cadangan makanan pada endosperm, tanaman ini termasuk pada kelas monokotil. Sedangkan sub kelas dikotil, cadangan makanan yang terdapat dalam kotiledon atau perisperm mulai diserap oleh embrio sebelum biji masak. Contoh : kacang-kacangan (Leguminosa), bunga matahari (Helianthus annuus L) dan labu (Cucurb ita pepo L).
Pelindung Biji
Pelindung biji berupa kulit biji (testa) barasal dari integument ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji berlangsung. Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwarna kecoklatan sedangkan bagian dalamnya tipis dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan serangga.
 
II. Konsep Benih

Benih ialah biji tanaman yang dipergunakan untuk keperluan dan pengembangan usahatani, memiliki fungsi agronomis. Benih diartikan sebagai biji yang telah mengalami perlakukan khusus sehingga dapat dijadikan sarana dalam memperbanyak tanaman.

Selanjutnya pemerintah memberikan batasan yang lebih luas tentang pengertian benih. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 39/Permentan/ OT.140/ 8/2006, yang dimaksud benih yaitu tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakan  tanaman. Berdasarkan pengertian tersebut, maka benih tidak saja identik dengan biji namun bisa bagian tanaman lainnya seperti daun, akar, dan batang.
Benih
Benih unggul
 
Benih unggul adalah benih yang berasal dari jenis unggul, yang berkualitas baik, ditinjau dari segi kemurnian benih, kebersihan benih, daya tumbuh dan kesehatan benih.
 
Pemakaian benih unggul merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya hasil persatuan luas suatu pertanaman. Pemakaian jenis unggul menjadi salah satu syarat untuk meningkatkan hasil, maka kesadaran petani untuk berjenis unggul (dan berbenih unggul) adalah merupakan kunci utama peningkatan produksi. Maka untuk mempermudah pengawasan dan pembinaan sistim perbanyakan benih unggul dari suatu jenis unggul demi menjamin mutu benihnya, diadakan klasifikasi benih, yaitu :
 
Breeder Seed (Benih Teras), Benih ini di perbanyak dan langsung di hasilkan atau di awasi oleh seorang breeder (pemulia) yang membuat benih tersebut. Breeder seed ini di sediakan oleh seorang breeder atau lembaga penelitian untuk pembuatan foundation seed.
Foundation seed (benih dasar), adalah benih yang langsung di perbanyak dari breeder seed. Identitas genetis dan kemurniaan dari jenis dipertahankan di dalam foundation seed. Benih ini di hasilkan dan di awasi secara teliti dan disahkan oleh lembaga penelitian atau perwakilannya. Foundation seed adalah merupakan sumber dari semua kelas certified seed, apakah langsung atau melalui registered seed.
 
Registered seed, adalah keturunan dari foundation seed atau registered seed. Mempertahankan secara cukup identitas genetis dan kemurnian dari jenis untuk produksi certified seed.
Certified seed, Certified seed adalah keturunan dari foundation, registered atau certified seed. Certified seed harus dikuasai sedemikian untuk mempertahankan identitas genetis secara cukup dan kemurnian dari jenis yang akan disahkan oleh orang yang di tugaskan untuk ini, misalnya oleh inspektur benih dipertanian yang sudah mendapat latian dari lembaga tertentu. Certified seed ini dapat ditanam oleh petani penanam benih dari penangkar benih.
Mutu dari suatu benih juga bisa dilihat dengan cakupan mutu genetik, fisiologik, dan fisik.


1.   Mutu Genetik
Mutu genetik merupakan penampilan benih murni dari spesies atau varietas tertentu yang menunjukan identitas genetik dari tanaman induknya, mulai dari benih penjenis, benih dasar, benih pokok, dan benih sebar.
   
2.   Mutu Fisiologik
Mutu fisologik menampilkan  kemampuan daya hidup atau viabilitas benih mencakup daya kecambah, dan kekuatan tumbuh benih. Benih yang dipanen pada saat masak fisiologis memiliki mutu fisiologik yang bagus, karena memiliki kemampuan awal perkecambahan yang maksimum. Mutu fisiologik benih juga tercermin dari daya simpan selama periode tertentu, serta bebas dari kontaminasi hama dan penyakit.
 
3.   Mutu Fisik
Mutu fisik merupakan penampilan benih secara prima bila dilihat secara fisik. Mutu fisik benih dapat ditandai dengan bentuk yang bernas. Jika benih berada dalam satu wadah, maka mutu fisik benih ditandai dengan ukuran yang homogen, bersih dari campuran benih lain, dan biji gulma, serta bebas dari berbagai kotaminan lainnya.
Berdasarkan cakupan mutu di atas, maka mutu suatu benih dapat dilihat dari faktor kebenaran varietas, kemurnian benih, daya kecambah, dan kekuatan tumbuh. Lebih luas lagi, bahwa suatu benih dinyatakan bermutu jika memenuhi standar minimum dan standar maksimum. Standar minimum meliputi kemurnian benih, daya kecambah, dan kekuatan tumbuh. Standar maksimum meliputi kadar air benih, persentase biji tanaman lain, gulma, dan kontaminan-kontaminan lain, serta bebas hama dan penyakit.
 
III. Konsep Bibit 

Bibit yaitu benih/biji yang telah disemai sebelumnya yang akan ditanam ke lahan/media tanam dan memenuhi persyaratan di dalam pembudidayaan tanaman. Termasuk dalam kategori bibit yaitu hasil cangkokan, sambungan, okulasi, kultur jaringan dan bibit hasil perbanyakan vegetatif lainnya. Bibit adalah bahan pertanaman berupa vegetative, terdiri dari : 
  • Tanaman muda asal biji, misalnya : Bibit cabutan, Bibit puteran, Bibit setump
  • Bahan tanaman asal pembiakan secara vegetative, misalnya : Cangkokan, Stek
  • Organ khusus dari tanaman, misalnya : Setolon, Umbi batang, Bulbus dan suing, Bulbil, dan Anakan
  •  
IV. Istilah-Istilah yang Sering Digunakan dalam Hubungan Dengan Benih dan Bibit
 
Populasi
Populasi adalah kumpulan tumbuhan yang terdiri dari tumbuhan yang tidak terlalu banyak berbeda satu sama lain,tetapi juga sama sekali tidak sama satu dengan yang lainnya. Populasi biasanya terdiri dari campuran lini murni yang perbedaan satu dengan lainnya kecil sekali, sehingga sukar untuk di beda-bedakan. Populasi di peroleh dengan seleksi setempat yang tidak di sengaja, misalnya : jenis daerah, populasi buatan.
 
Varietas (jenis) dan Klon
Jenis adalah kumpulan tumbuhan yang termasuk dalam satu spesies, hasil dari suatu pembiakan generative, yang terdiri dari tumbuhan yang berbeda karena keadaan luar yang berbeda. Perbedaan ini tidak menurun. Kalau keadaan luar sama, perbedaan ini dapat hilang, misalnya : jenis padi,jenis jagung. Dapat juga dikatakan, jenis adalah tumbuhan asal dengan semua keturunan yaitu anak-anak dan cucu-cucu yang berbiak secara vegetative. Jikalau kumpulan tumbuhan tersebut dihasilkan dari suatu pembiakan vegetative maka disebut klon, misalnya : tebu, klon ubi kayu, klon karet. Dapat juga dikatakan, klon adalah tumbuhan asal dengan semua keturunan yaitu anak-anak dan cucu-cucu yang berbiak secara vegetative.
 
Strain
Strain adalah kumpulan tumbuhan yang mempunyai variabilitas yang kecil sekali, terutama sifat dalamnya. Sifat individu yang menyerupai satu sama lain : sifat-sifat ini adalah menurun. Istilah strain lebih tepat dipergunakan pada binatang, sedangkan pada tumbuhan lebih tepat dipergunakan istilah galur.
Biji Sapuan
Biji sapuan adalah biji-biji yang dikumpulkan dari sebuah kebun tanaman biji, tanpa pemilihan biji.
Biji Legitim
Biji legitim adalah biji-biji yang dihasilkan dari persilangan pohon induk yang dipilih (Biklonal), bijinya telah terpilih.
Biji Prope Legitim
Biji prope legitim adalah biji-biji dari tanaman biji (pohon induk) yang terpilih, tetapi ayahnya tidak diketahui.

Daftar Pustaka

http://daun2001.blogspot.com/2013/05/konsep-benih_18.html. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2014.
http://a32121210.blogspot.com/2013/07/pengertian-bibit-dan-benih.html. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2014.

membuat manisan dari buah mangga

manisan mangga muda 
 
Siapkan Bahan Yang Diperlukan
Untuk membuat manisan mangga muda sangat mudah sebenranya. Bahan yang digunakan juga cukup mudah didapatkan. Berikut bahan-bahan yang diperlukan untuk meracik manisan:


  1. Mangga muda sebanyak 1 kilogram. Rekomendasi jenis mangga terbaik untuk dijadikan manisan mangga muda adalah mangga indramayu. Kupas kulitnya dan potong-potong memanjang. 
  2. Kapur sirih secukupnya.
Bahan Sirup Manisan A, antara lain:
  1. Air sebanyak 100 mililiter
  2. Gula pasir sebanyak 250 gram
  3. Garam sebanyak 1 sendok makan
Bahan Sirup Manisan B, antara lain:
  1. Air sebanyak 500 mililiter
  2. Gula pasir sebanyak 250 gram
Cara Membuat Manisan Mangga Muda 
 Setelah semua bahan lengkap, saatnya meracik manisan mangga muda Anda. Adapun langkah demi langkahnya sebagai berikut:
  1. Buah mangga yang telah dipotong-potong memanjang direndam di dalam air yang telah dicampur dengan kapur sirih secukupnya.
  2. Diamkan selama 40 menit. Setelah itu tiriskan dan cuci bersih agar kapur sirih hilang sempurna dari mangga. Jika tidak cermat, rasa pahit dan getir kapur sirih akan lengket ke mangga. Setelah bersih, simpan mangga muda di dalam stoples kaca. Tutup rapat.
  3. Selanjutnya, siapkan bahan dari Sirup Manisan A. Rebus gula pasir tersebut bersama air dan tambahkan garam secukupnya. Terus rebus hingga mendidih. Setelah itu matikan api dan dinginkan air sirup.
  4. Setelah sirup dingin, tuang ke dalam stopless tempat mangga disimpan. Setelah sirup masuk sempurna, tutup rapat stopless dan diamkan semalam penuh.
  5. Besoknya, buang air sirup dari dalam stopless. Selanjutnya, olah bahan Sirup B. Rebus air bersama gula dan kembali dinginkan. Setelah itu masukkan lagi ke dalam stopless seperti sirup A. Diamkan selama 40 menit dengan dimasukkan ke dalam lemari pendingin. 
Saat hendak disajikan, pisahkan air gula dari mangga. Porsi manisan mangga muda ini muat untuk 10 orang. Paling nikmat disajikan sebagai hidangan pembukan pun penutup. Sebagai camilan di sore hari saat bercengkrama bersama keluarga juga tentu menyenangkan. Selamat menikmati ya.

Senin, 14 Agustus 2017

5 kunci keaman pangan


5 KUNCI KEAMANAN PANGAN
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat
Dinas Pangan
Bidang Konsumsi Dan Keamanan Pangan
Jl. Raden Saleh No.4 Padang Kotak Pos No.153
Telp. 0751-7051526 , 7054161 , Fax.0751 – 7054505

1.Jagalah kebersihan
*  Pisahkanlah daging sapi , daging unggas,dan pangan amat disarankan . jangan memakai wadah bekas pengolahan pangan hewani dengan pengolahan pangan nabati sebelum dicuci bersih.
*      Simpan pangan dalam wadah untuk menghindari kontak antara pangan mentah dan pangan matang

2.pisahkanlah pangan mentah dari pangan matang
*      Pisahkanlah daging sapi ,daging unggas , dan , pangan hasil laut dengan pangan lainnya.
*  Penggunaan peralatan terpisah untuk mengolah pangan amat disarankan.jangan memakai wadah bekas pengolahan pangan hewani dengan pengolahan pangan nabati sebelum dicuci bersih
*      Simpan pangan dalam wadah untuk menghindari kontak antara pangan mentah dan pangan matang.

3.masaklah dengan benar
*      Pangan harus dimasak dengan benar terutama untuk daging sapi , daging unggas , telur , dan pangan hasil laut
*      Jika dilakukan dengan merebus , harus sampai mendidih dan usahakan agar suhu internal mencapai 70 derajat celcius
*      Untuk daging , usahakan cairannya bening tidak berwarna merah muda
*      Jika ingin memanaskan , panaskan pangan secara benar

4.jagalah pangan pada suhu aman
*      Jangan biarkan pangan matang pada suhu ruang lebih dari 2 jam
*      Simpan segera semua pangan yang cepat rusak dalam lemari pendingin (sebaiknya suhu dibawah 5 derajat celcius)
*      Pertahankan suhu pangan lebih dari 60 derajat celcius sebelum disajikan
*      Penyimpanan pangan terlalu lama di lemari pendingin pun sebaiknya tidak dilakukan dan jangan biarkan pula pangan beku mencair pada suhu ruang

5.gunakan air dan bahan baku yang aman
*      Gunakan air yang aman (mengalir , tidak berwarna dan berbau) atau beri perlakuan agar air aman tidak terkontaminasi
*      Pangan dipilih yang segar dan bermutu
*      Cara pengolahan sebaiknya dipilih yang menghasilkan pangan aman
*      Buah – buahan dan sayuran harus dicuci terutama jika akan dimakan mentah
*      Jangan mengkonsumsi pangan yang kadaluarsa