Jumat, 15 November 2013

Ada TABUT di Sastra kita



Setiap bulan muharam tiba adalah saat yang paling di nanti di daerah pesisir barat sumatra. Kota pariaman dan provinsi bengkulu khususnya menyelenggarakan pesta budaya yang terlaksana pada  1-10 muharam setiap tahunnya.
Di pariaman sendiri budaya itu di namakan pesta budaya tabuik. Seperti apa sih sebenarnya pesta budaya itu di mata sastrawan  nur sutan iskandar??  yuk intip sedikit sebanyak memberikan gambaran meriahnya pesta itu pada awal abad 20.
Buat penerbit balai pustaka, Boleh ya di share ceritanya di sini^^, agar orang indonesia juga lebih cinta sama negerinya sendiri

12.Dalam Keramaian Tabuik

sudah sepuluh hari kota padang lebih ramai dari pada biasa. dari segenap negeri dan dusun yang terletak di keliling kota itu berduyun duyun dan berasak-asakan orang pergi kesana.bahkan dari darat dan rantu pun ada juga.aku melihat keamaian tabut , arak-arakan yang hanya diadakan sekali setahun.

sejak dari 1 - 10 muharam telah terdengar bunyi tasa dan dol - gendang dan tambur - bersahut sahutan dengan riuh rendah.hari pertama atabur orang pulang dari sungai mengambil tanah, dengan lagu pulang- pulang, yaitu tanah yang akan di kepal-kepal menyerupai tubuh manusia yang tiada berkepala ... semisal Husain yang mati berperang di padang karbela, lalu di kafani dengan kain putih dan di letakkan di dalam aluah (makam) dalam dargah(keramat). setelah itu di mulai berkabung , empat hari empat malam matam di matamsari(tempat berkabung) dekat dargah itu, yakni menunjukan duka cita kepada arwah cucu nabi Muhammad SAW yang berpulang.membunyikan tasa dan dol dengan gemuruh dan bertalun-talun , sedang anak - anak berkerumun dengan riang.

di belakangtangsi ,di kampung jawa, di berok , di kampung nias , dan kampung keling diadakan demikian.bahkan pada hampir segenap kampung yang besar-besar di dalam kota padang yang ramai itu.jadi tak heran, jika ketika itu kota itu tak ubah seperti medan perang,penuh sesak dengan laskar ,yang di gembirakan dengan tambur dari segenap pihak , alamat perang akan di mulai.

lebih ramai , lebih sibuk dan gembira lagi pada hari yang kelima , yaitu lima hari bulan muharam. ketika itu orang pergi mengambil batang pisang , maksudnya mengambil kepala Husain yang terpenggal di padang karbela. batang pisang itu di arak dengan tasa dan dol juga. tidak, bukan dengan bunyi bunyian itu saja - keramain itu sudah di tambah dengan sebuah tabut kecil dan tabut lenong , yang di junjung dan di lonjak-lonjakkan , di lenong lenongkan , diputar putar oleh seorang orang muda di atas kepalanya, serta di iringkan oleh majenun, yaitu anak-anak yang berpakaian serba kuning.

malam kedelapan mengarak panja atau jari-jari , yang terbuat dari pada gangsa dan hiasi dengan bunga -bungaan , berkeliling kota seperti tabut lenong pula.permainan bertambah banyak dari biasa : semuntu , orang bertopeng atau berlumur muka dengaa arang keluar pada malam itu, begitu pula orang yang berpakaian puspa ragam, menurut kesukaan masing - masing - tak ubah seperti dalam pesta gila... sekaliannya itu melonjak-lonjak , berteriak-triak menyerukan Hasan-Hosen menurutkan lagu bunyi tasa dan dol dan suling di belakang perarakan itu.

tentu saja penonton laki-laki dan perempuan tiada ketinggalan , malah berasak-asak , berduyun-duyun , berbondong-bondong, geser menggeser dengan riang . orang orang muda yang 'lesek' tangan dan ';cacau' mata , bahkan 'mata keranjang'tak usah di sebut bagaimana gembira hatinya!

... pada malam kesembilan adalah malam mengarak serban. dan pada petang hari yang kesepuluh -asyura-baru keluar tabut besar

... pada hari ahad sejak pukul tiga petangorang sudah berkumpul-kumpul di tepi lautdekat purus. laki-laki, perempuan , tua muda , sama ada orang bumiputera, tionghoa, belanda , arab dan keling. makin petang hari ,orang makin ramai juga.kendaraan silih berganti,sejak dari jalan belantung kecil , damar , parak kerambil , dan muara.sehingga polisi bekerja keras akan mengaturkan lalu lintas.panaspun telah berkurang-kurang, sampai senja , dan awan makin tebal di sebelah barat, pada pertemuan langit dengan air.kebetulan angin tiada berembus.sehingga laut menjadi tenang dan teduh rupanya.meskipun cakrawala seolah-olah menunjukkan sedih akan tabut yang akan di buang kelak, tetapi hati penonton bertambah riang dan gembira.sebab mereka itu tiada usah takut akan kepanasan. pemandangan lepas jauh ke tengah laut , sehingga tampak beberapa buah pulau hilang hilang timbul. jauh di tengah pulau pandan dan dua buah agak ketepi pulau angsa.

. . . sebuah tabut kelihatan terlonjak-lonjak di tengah lautan manusia dan menuju arah tepi pantai - gemerlapan rupanya serentak dengan lonjak itu kedengaran bunyi tasa , dol , suling , dan teriak hasan - hosen riuh rendah gegap gempita.

sesampai di tepi laut , tabuik itu pun berhenti dan bunyi - bunyian diam . hening, hanya kedengaran bunyi langkah dan deru dengung orang banyak, yang datang berkerumun  di dekat arakan itu, akan melihat keindahannya.yang datang mula-mula itu adalah tabut berok , bertingkat dua bergambar buraq dan berukir-ukir kertas telur , amat indah rupanya.kemudian tiba - tiba berturut turut tabut belakang tangsi , tabut kampung jawa dan lain-lain. sekaliannya itu di letakkan berjajar jajar , supaya dapat di pandangi oleh sekalian umat , dengan pandangan penghabisan.memang, sebab sejurus kemudian segala arakan itu pun dibuang masuk laut dengan ratap dan tangis.

tangis dan ratap perceraian . . .

keramaian habis ! haripun telah senja, matahari sudah terbenam. api lampu mercusuar telah berkelip kelip di pulau pandan, padam, hidup , padam . berantara antara selama menghitung dari satu hingga ke dua puluh lima. sekalian orang mulai berangkat pulang , berduyun duyun , berasak asakan . . .    


Nur Sutan Iskandar (lahir di Sungai Batang, Sumatera Barat, 3 November 1893 – meninggal di Jakarta, 28 November 1975 pada umur 82 tahun) adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka.
Nur Sutan Iskandar memiliki nama asli Muhammad Nur. Seperti umumnya lelaki Minangkabau lainnya Muhammad Nur mendapat gelar ketika menikah. Gelar Sutan Iskandar yang diperolehnya kemudian dipadukan dengan nama aslinya